
Doa, Kesabaran, Ketulusan, Keikhlasan, dan Perhatian yang Mengantarkanku ke Jalan Kesembuhan.
Aku pasien yang dinyatakan positif Covid 19. Selama 34 hari diisolasi di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Tegal. Aku masuk tgl 16 Maret dan keluar tanggal 18 April 2020. Alhamdulillah, Sabtu kmrn tanggal 18 April 2020 hasil SWAB terakhir yg dilakukan dua hari berturut-turut, yakni hari Senin dan Selasa, tanggal 14 dan 15 April 2020, aku dinyatakan negatif dan sembuh dari Covid 19.
Berkat izin Allah SWT, dan doa serta support dari keluarga, khususnya dari suami tercinta yang dengan sabar dan setia mendampingiku, saudara-saudara, para dokter dan perawat yg merawat dengan ikhlas dan sabar, juga tak ketinggalan para cleaning servise yg selalu membersihkan kamarku di ruang isolasi, sahabat-sahabat, teman-teman guru, para colega, murid-murid dan juga para alumni, akhirnya aku sembuh dari covid 19.
Ketika dirawat selama 34 hari, bnyk yg telepon ataupun japri melalui WA menanyakan tentang kabar, apa yg dirasakan, dan yg terbanyak adalah mereka memberikan support agar aku sabar dan ikhlas menerima ujian ini. Terima kasih untuk semuanya yg terus berusaha menguatkanku selama di ruang isolasi.
Kalau Ditanya Bagaimana Perasaannya Ketika Diisolasi ?
Yang jelas...di awal-awal aku sempat shock, sedih, menyesali apa yg sdh terjadi. Sekaligus takut dan stres karena sama sekali tidak menyangka kalau akan diisolasi seperti itu. Apalagi waktu diisolasi yg pertama, aku berada di ruang isolasi lantai 2 di ICCU yg sebelahnya adalah semua pasien yg memerlukan perawatan khusus. Di ruang yg dipisahkan dengan sekat yg terbuat dari kaca itu, aku melihat langsung, pasien yg memerlukan perawatan khusus tersebut tiap beberapa hari bahkan tiap beberapa jam sekali ada yang meninggal dunia. Aku merasa suasananya semakin mencekam dan aku juga semakin ketakutan. Ketika itu langsung kutulis di status WA. Untung banyak teman yg membaca dan langsung japri dengan menguatkan agar aku selalu baca istighfar dan berdoa dengan harapan Allah SWT terus akan melindungi. Aku juga minta ustad tempat biasa aku mengaji utk mengirimkan doa yg bisa dibaca agar hati tetap tenang dan tdk gelisah.
Hari pun terus berlalu. Aku pun merasakan kematian begitu dekat, karena di ruang ICCU sering pasien yang memerlukan perawatan khusus tersebut begitu cepat meninggal dunia. Akhirnya aku pun pasrah dan benar-benar ikhlas terhadap peristiwa selanjutnya yang akan kualami, meskipun ajal akan menjemputku.
Kurang lebih 11 hari aku berada di ruang isolasi yg ada di ICCU. Akhirnya, Rabu malam, tanggal 25 Maret 2020, kabar baik pun aku terima. Hasil SWAB dinyatakan negatif. Ketika itu, aku langsung sujud syukur. Dengan air mata kebahagiaan yg terus mengalir karena mendapatkan karunia yg luar biasa. Kamis sore, tanggal 26 Maret 2020 aku dipindah ke ruang perawatan khusus untuk pemulihan.
Dengan hati girang aku pun membolehkan kedua putriku untuk pulang ke Tegal. Mereka berdua studi di Jogyakarta. Sebenarnya mereka ingin pulang sejak tahu aku dirawat di RS. Tapi terus terang aku larang karena kondisi covid yg terus mengkhawatirkan.
Hari yg kutunggu pun tiba. Ya...Sabtu, tanggal 28 Maret 2020 saat kedua putriku naik kereta menuju Tegal aku berpikir akan mendapat kabar baik kalau Sabtu sore atau paling tidak Minggu pagi, bisa pulang karena sudah tepat 14 hari. Dan rasa rindu dengan kedua putriku akan terobati. Tapi....ternyata impian indah itu justru sebaliknya. Aku mendapat kabar kalau hari Senin, 30 Maret 2020 akan di SWAB lagi.
Harapan untuk melepas kerinduan dengan kedua putriku pun pupus. Hari demi hari aku pun lalui dengan kesunyian dan kesendirian. Walaupun sudah dipindah ke ruang perawatan khusus, tetap tidak boleh dijenguk apalagi ditunggu dan blm boleh pulang karena harus menunggu hasil SWAB kembali. Aku terpaksa menahan kerinduan dengan penuh tetesan air mata.
Tepat 9 hari dirawat di ruang perawatan khusus, yakni hari Minggu pagi, 5 April 2020, hati ini terasa hancur karena menerima kabar buruk dari dokter kalau hasil SWAB positif covid 19. Sontak, aku pun langsung telepon suami sambil menangis tersedu-sedu karena menahan pilu mengabarkan kabar buruk itu.
Seketika itu juga dengan sigap para perawat bersiap-siap memindahkanku ke ruang isolasi kembali. Dan aku hanya boleh membawa HP, mukenah, alquran, dan sajadah. Semua barang harus kutinggalkan dan biar suami yg membereskan, pinta perawat.
Aku terus berusaha untuk tetap tegar, walaupun sebenarnya hati ini terasa sakit dan pilu karena harus menerima kenyataan yang lebih pahit lagi. Ya....aku harus berpindah ke ruang isolasi kembali. Di ruang isolasi yg kedua ini aku dirawat sampai 14 hari.
Ruang isolasi yang kedua ini berbeda dengan yg pertama. Walaupun sama-sama dikunci dari luar, ruang isolasi ini tetap di ruang perawatan khusus, paling belakang. Bukan lagi di ruang ICCU. Namun, bedanya semua kaca tertutup rapat dan tidak bisa melihat apapun yg terjadi di luar.
Saat aku menjalani pemulihan di ruang perawatan khusus ada fasilitas televisi. Akan tetapi, walaupun sama-sama di ruang perawatan khusus, utk yg di ruang isolasi tidak ada fasilitas televisi. Dan ini menjadikan suasana semakin sunyi dan sepi.
Apa Tidak Jenuh Begitu Lama di Ruang Isolasi ?
Tentu sudah ramai dibicarakan, baik di televisi maupun di media sosial tentang perilaku pasien covid 19 yang sedang dirawat di rumah sakit. Pasien covid 19 kerap menolak ketika akan diisolasi, tidak mengikuti aturan medis, bahkan ada yang kabur dari rumah sakit lalu bersembunyi di atas pohon.
Dalam berita terkini pun banyak dijumpai pasien yang tidak jujur kalau punya riwayat covid 19 di tempat sebelumnya. Ketidakjujuran itu yang menjadi salah satu penyebab para tenaga medis terpapar dan akhirnya mereka positif terkena virus corona. Kalau banyak para tenaga medis yang tumbang, kita sendiri yang rugi karena sudah tidak ada yang bisa merawat pasien covid 19 lagi. Apalagi jumlah mereka sangat terbatas.
Itu semua terjadi karena mereka jenuh di ruang isolasi. Bagaimana mungkin pasien covid 19 tidak jenuh? Tentu sangat jenuh dan tersiksa karena terkurung begitu lama dalam kesendirian. Seperti halnya diriku yang dirawat sampai 34 hari dikurung dan sekaligus dikunci dari luar serta tidak bisa menikmati indahnya sang surya. Itu semua merupakan protokoler pasien covid 19 agar yang lain tidak terpapar.
Namun, aku tetap jalani dengan penuh semangat kesembuhan. Agar aku bisa segera kembali berkumpul dengan keluarga, saudara, teman-teman, guru-guru, staf tata usaha, dan murid-murid tempatku bertugas. Aku juga ingin memberikan contoh bahwa pasien harus selalu patuh pada aturan medis. Pasien yang patuh akan memberikan semangat dan harapan tersendiri untuk tenaga medis yang sedang bertugas dan berjuang di garda depan.
Doa, Sabar, Ikhlas, Semangat, dan Support dari Orang-Orang Terkasih
Hari demi hari kulalui dengan penuh kepasrahan. Aku merasakan bahwa aku tak punya apa-apa dan juga tak punya siapa-siapa.
Namun, ternyata Allah SWT tak henti-hentinya memberikan kasih sayang-Nya dengan menghadirkan orang-orang terkasih. Keluarga tercinta, saudara-saudara, sahabat-sahabat, teman-teman guru, staf tata usaha, para kolega, murid-murid dan para alumni serta para dokter dan perawat yang merawatku, memberikan doa dan support agar aku terus punya semangat untuk sembuh.
Ya....aku tidak mau larut dalam kesedihan. Aku masih punya mimpi. Masih ingin mendampingi anak-anak dan suamiku. Masih ingin bersama ibuku yg masih hidup. Masih ingin berkumpul dengan keluarga besarku, Masih ingin bertemu dan berkumpul dengan ceria bersama sahabat-sahabatku, dengan teman-teman yang aku kenal, dengan guru, staf tata usaha, dan murid-muridku di sekolah, dan para alumni yang ingin berjumpa denganku setelah lebaran nanti.
Akhirnya, sambil berserah diri dengan mendekatkan kepada-Nya aku pun isi hari-hari yang begitu panjang di ruang isolasi dengan terus berdzikir dan berdoa agar Allah menentukan yang terbaik untukku. Aku sudah ikhlas dengan menjalani takdir-Nya.
Di setiap sholat wajib dan sholat sunah aku akhiri dengan berdoa untuk minta perlindungan dari-Nya. Dan akupun membaca Alquran untuk lebih menenangkan jiwaku serta baca-baca buku utk menambah wawasan. Agar badanku tetap sehat aku juga tetap minum obat, makan makanan yang disediakan dari RS ataupun makanan yang dikirim dan dititipkan oleh suami kepada perawat serta olah raga ringan di dalam kamar isolasi.
Tiga hari menjelang kepulangan, aku pun merasakan bosan memakan makanan yang disediakan rumah sakit. Lagi-lagi Allah SWT mendengarnya dan mengirimkan makanan melalui orang-orang terkasih yang misterius, karena aku tidak tahu siapa pengirimnya. Bahkan perawat yang menyampaikan pun tidak ada yang tahu ketika kutanya, siapa pengirimnya. Mereka hanya pesan kepada perawat agar makanan itu disampaikan kepadaku. Ada yang kirim ayam goreng, nasi uduk, salad buah, pisang kepok. Bahkan pagi hari saat aku dapat berita kalau hasil SWAB negatif dan hari itu aku boleh pulang, ada juga yang kirim bubur ayam. Terima kasih untuk teman-teman misterius yang mengirimkan makanan untukku.
Mengusir Kejenuhan dengan Sejenak Memantau Pekerjaan dari Ruang Isolasi
Tampaknya dari luar mungkin terasa memaksakan, sedang berada di ruang isolasi masih memikirkan pekerjaan. Tapi walaupun aku positif covid, alhamdulillah aku baik-baik saja dan sehat walafiat. Lagi-lagi Allah memberikan nikmat yang luar biasa. Memberikan kekuatan lahir batin yang tak ada henti-hentinya kepadaku.
Aku merasakan sakit batuk yg tiada henti, sedikit demam dan sedikit sesak nafas di ruang isolasi hanya 3 hari di awal. Sejak itu, kurang lebih 31 hari sampai aku dinyatakan sembuh dan boleh pulang, alhamdulillah aku sehat walafiat.
Di sela-sela waktu, mendekatkan diri kepada-Nya, aku pun gunakan waktu untuk berkomunikasi dengan teman-teman kerja. Walaupun lewat telepon ataupun japri melalui WA aku terus menanyakan tentang perkembangan sekolah. Aku koordinasi dengan teman-teman di sekolah tentang berbagai hal. Itu aku lakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai seorang kepala sekolah dan juga untuk mengusir kejenuhan di ruang isolasi.
Ketika awal terjadinya covid 19, terbit berbagai aturan tentang penyesuaian kegiatan kedinasan sebagai upaya memutus rantai penyebaran covid 19, baik dari menteri pendidikan, gubernur, kepala dinas pendidikan provinsi, maupun dari kepala cabang dinas. Banyak regulasi yang harus segera ditindaklanjuti dan aku koordinasikan dengan guru-guru dan staf tata usaha di sekolah. Seperti halnya tentang pembatalan Ujian Nasional, pelaksanaan Ujian Sekolah Online, pembelajaran daring, pengaturan piket, peduli covid dengan menggerakkan untuk pemberian bantuan, dan masih banyak lainnya yg harus ditindaklanjuti.
Aku bisa tetap memantau perkembangan sekolah seperti itu karena kebetulan alhamdulillah walaupun aku diisolasi, kondisiku tidak seperti yang diberitakan di televisi ataupun di media sosial ataupun yg diperkirakan teman-teman. Para penderita covid terbaring dengan kondisi yang memprihatinkan. Ada yang tidak bisa makan, tenggorokan kering, sulit bernafas, demam tinggi bahkan badan terasa linu semua. Ada juga yang dipasangi ventilator, alat pengendali denyut jantung, dan lain-lain. Lagi-lagi aku harus terus bersyukur karena aku dikaruniai kesehatan lahir dan batin oleh Allah SWT semasa di rumah sakit.
Nikmat Mana Lagi yang Kamu Dustakan ?
Ya....tidak ada satupun yang harus tidak kita syukuri. Nikmat senang maupun susah harus tetap kita syukuri. Mengapa demikian? karena itulah yang terbaik yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Pasti di balik kesenangan ataupun kesedihan banyak hikmah yang Allah siapkan untuk hamba-Nya. Dan Allah juga akan menguji sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
Yang jelas aku berpesan kepada semuanya agar cukup aku dan teman-teman pasien covid 19 yang sudah terlanjur diisolasi, Masyarakat jangan sampai mengalami apa yang aku rasakan, yakni diisolasi sampai 34 hari.
Oleh karena itu, tolong ikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah (keluar kalau betul-betul penting), jaga jarak (tapi bukan memutus silaturahmi loh ya....tetap silaturahmi walaupun untuk sementara waktu melalui WA), tetap memakai masker, menjaga kebersihan dan sering cuci tangan. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah minta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari hal-hal yg membahayakan seperti halnya virus corona ini.
Bagi yang masih dirawat di RS sebagai pasien covid, aku berpesan untuk tetap berprasangka baik sama Allah, Jangan menganggap bahwa Allah sedang memberi siksaan. Tapi Allah sedang memberikan ujian.Tetap bersabar dan ikhlas menerima ujian-Nya.
Pasrahkan dengan penuh tawakal niscaya hati akan merasa tenteram dan tetap semangat untuk sembuh. Banyak berdoa dan berdzikir in syaa Allah, Allah akan terus memberi perlindungan. Di tengah kesunyian dan kesendirian jadikan sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tetap semangat dan tawakal. Percayalah Allah sebaik-baik pembuat rencana.